LAPAN-TUBSAT adalah sebuah satelit mikro yang dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universität Berlin; TU Berlin). Wahana ini dirancang berdasarkan satelit lain bernama DLR-TUBSAT, namun juga menyertakan sensor bintang yang baru. Satelit LAPAN-TUBSAT yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter ini akan digunakan untuk melakukan pemantauan langsung situasi di Bumi seperti kebakaran hutan, gunung berapi, banjir, menyimpan dan meneruskan pesan komunikasi di wilayah Indonesia, serta untuk misi komunikasi bergerak. LAPAN-TUBSAT membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan Bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer.
|
|
|
Kerja Sama LAPAN – IPB, Dalam Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional |
|
Guna mendukung ketahanan pangan nasional, Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) menandatangani Nota Kesepahaman Kerja Sama Penelitian dan Pengembangan di Bidang Teknologi dan Pemanfaatan Kedirgantaraan serta Peningkatan Sumber Daya Manusia. Penandatangan dilakukan oleh Kepala LAPAN Adi Sadewo Salatun dan Rektor IPB Herry Suhardiyanto, di Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Darmaga Bogor, 23 Januari 2010.
|
|
Selengkapnya..
|
|
|
Pengendalian LAPAN-TUBSAT berdasarkan pada konsep manajemen sudut momentum. Pengendalian kontrol dilakukan via 3 kemudi reaksi dan 3 magnetik. Pada pengendalian tambahan, 4 panel matahari dan 2 sel matahari digunakan sebagai sensor matahari kasar. Pencarian bintang digunakan untuk menyediakan penentuan yang lebih akurat terutama untuk menemukan arah daya gerak panas/garis vektor. Menurut bagan sistem digambarkan di bawah ini: 
Bentuk Kendali Sikap |
|
|